#StartupLokal

Cara Fundraising sebagai Founder Startup Tanpa Menyerahkan Leverage

25 April 2024

Ditulis dari #StartupLokal Meetup v.118 — Master the Art of Pitching from a Y Combinator Alumni

Cara Fundraising sebagai Founder Startup Tanpa Menyerahkan Leverage

Fundraising tidak diselesaikan hanya dengan pitch yang memukau; penentu sebenarnya adalah apakah kita mendekati investor dari posisi leverage ketika kita tidak benar-benar membutuhkan uang mereka. Henri Suhardja, Co-founder dan CEO Titipku (YC S21), berpendapat bahwa banyak founder pemula mencampuradukkan storytelling dengan mekanika penggalangan modal sehingga akhirnya menyerahkan kendali.

Mengapa pitch yang bagus tidak menjamin pendanaan

Apa salah kaprah founder junior tentang pitching?

Banyak founder baru percaya bahwa jika mereka bicara baik, menjual dengan baik, dan menunjukkan deck yang menawan, modal akan otomatis mengalir. Suhardja mengingat pertemuan dengan banyak founder junior yang memperlakukan pitching sebagai kunci tunggal pembuka investasi.

Kesalahan nomor satu adalah mengira bahwa segalanya selesai jika pitch bagus, jika kita pintar bicara dan menjual, investor akan langsung memberi uang.

Ia menekankan hal ini keliru karena mereka tidak memahami progresi sesungguhnya dari proses fundraising. Seorang founder mungkin brilian dalam presentasi, tetapi jika tahap bisnis, leverage, dan kebutuhan yang mendasari salah, hasilnya akan hancur.

Apa yang diajarkan Y Combinator tentang proses ini?

Suhardja menghabiskan tiga bulan di Y Combinator pada 2021 dan menggambarkan doktrin mereka sebagai membangun startup dengan cara yang benar lalu melakukan fundraising. Lingkungan pada 2023–2024 menunjukkan mengapa hal ini penting: ia mencatat gelombang pemutusan hubungan kerja, startup yang tutup, dan bahkan profesional venture capital mengundurkan diri. Ia mendefinisikan "zombie unicorn" sebagai startup dengan valuation raksasa namun fondasi rapuh yang bertahan hanya dengan memakan uang investor baru.

Pelajarannya adalah pitch hanyalah lapisan terakhir. Di bawahnya terdapat kesehatan bisnis, posisi founder, dan keselarasan investor. Founder yang mengabaikan hal-hal tersebut dan hanya percaya pada skill bicaranya akan, dalam katanya, "berakhir dalam kekacauan atau ending yang buruk."

Siapa yang harus didekati untuk pendanaan startup

Investor apa saja yang ada untuk founder tahap awal?

Suhardja mencantumkan pihak yang bisa dituju founder saat menggalang modal eksternal:

  • Angel investor: individu yang menanamkan dana pribadi
  • Venture Capital: firma institusional seperti Skystar Ventures
  • Syndicate Angels: individu yang bergabung seperti yang dipimpin Natali Ardianto dan kawan-kawan
  • Family and Friends: modal dari jaringan pribadi

Setiap tipe bereaksi berbeda terhadap leverage. Angel mungkin terlibat dengan founder tanpa rekam jejak; VC akan menuntut bukti lebih kuat. Mengetahui tipe membentuk cara kita mempresentasikan posisi.

Peran apa yang diambil investor selain memberi modal?

Ketika seseorang mendanai kita, mereka jarang diam. Suhardja merinci posisi yang mungkin diklaim investor:

  • Shareholder: tercatat di cap table
  • Adviser: memberikan nasihat
  • Komisaris atau anggota board: untuk tiket besar di atas ratusan ribu dolar
  • Connector: membuka pintu ke pihak lain
  • Support system: berdiri di belakang tim

Jika beruntung, kita akan punya investor yang bisa membantu dalam lima cara ini, bukan sekadar memberi uang dan namanya tercatat.

Ia menambahkan bahwa Titipku mendapat manfaat dari shareholder dan adviser seperti Natali Ardianto dan Nuni Tirta sejak tahun-tahun awal. Investor yang hati-hati melindungi reputasi sendiri, sehingga mereka memilih startup secara ketat; mereka tidak akan sembarangan mendukung founder yang melanggar hukum karena skandal akan menyeret mereka juga.

Cara menciptakan leverage sebelum fundraising

Apa arti leverage dalam hubungan investor?

Leverage adalah tinggi tawar yang kita pegang di atas investor. Suhardja menjelaskannya terang:

Leverage berarti posisi kita di atas investor, kekuatan tawar kita di atas mereka. Jika terbalik, kita di bawah, kekuatan jual kita di bawah, itu berarti kitalah yang meminta uang, kita lemah, kita tidak punya nilai lebih untuk dijual, sehingga kita harus mengemis.

Ia mengidentifikasi tiga sumber leverage yang bisa ditunjukkan bisnis:

  1. Pengalaman dan nama founder — misalnya, founder berpengalaman seperti Natali Ardianto yang membangun dan exit dari Tiket.com membawa kredibilitas instan.
  2. Kondisi bisnis saat ini itu sendiri.
  3. Prospek masa depan bisnis.

Jika ketiganya buruk, founder secara alami jatuh ke posisi mengemis, biasanya ke angel investor.

Mengapa sebaiknya raise hanya ketika tidak butuh uang?

Kata kunci kedua yang didengar Suhardja di hari pertama YC adalah timing: raise ketika tidak membutuhkannya.

Kata kunci pertama adalah leverage. Kata kunci kedua adalah ketika kita tidak membutuhkannya.

Alasannya adalah kebutuhan mendesak membalik dinamika kekuasaan. Jika founder berkata "kalau tidak didanai kita mati", investor bisa mendikte syarat. Ia mengingat founder kampus muda yang menerima tawaran angel sebesar Rp50 juta untuk 50% perusahaan karena mereka tidak tahu lebih baik. Itu tanda jelas nol leverage: investor mengeksploitasi kelemahan.

Bila kita melanggar ini, kita kalah. Investor mungkin tetap memberi uang tapi mereka meremas kita.

Bagaimana founder terhindar dari diperas?

Bangun leverage dulu. Tunjukkan traction, jalan yang jelas, atau kemenangan founder pribadi. Baru kemudian masuk. Jika tidak bisa, lebih baik tidak raise sama sekali daripada menyerahkan kendali.

Agenda apa yang dibawa investor

Apa lima agenda di balik investasi?

Uang tidak mendarat tanpa tujuan. Suhardja merinci apa yang diharapkan investor kembali:

  • Vision: mereka ingin melihat Anda mewujudkan mimpi yang mereka pegang
  • Program: mereka menjalankan aktivitas dan berharap Anda membantu mewujudkannya
  • Return on investment: tingkat dan kelipatan yang mereka hitung
  • Return on equity: nilai kepemilikan mereka di perusahaan
  • Impact: efek sosial atau misi, terutama bagi yang sangat kaya

Ia mencatat impact masih jarang di antara VC dan angel Indonesia, tetapi bagi ultra-kaya itu pertanyaan pertama.

Jika seseorang super kaya, mereka tidak lagi memikirkan uang, mereka ingin membantu pemuda, tapi mereka bertanya: apakah ada impact? Jika tidak ada impact, mereka tidak akan memberi.

Maka founder harus memetakan agenda mana yang cocok dengan investor di hadapan meja. Angel dengan vision butuh cerita berbeda dari VC yang menghitung ROI.

Bagaimana tahu apakah perlu fundraising sama sekali

Apa cara alternatif mendapatkan modal tanpa memberi equity?

Suhardja mendesak founder bertanya "apakah saya benar-benar butuh ini?" sebelum mengejar investor. Ia memaparkan rute non-dilutif:

  1. Modal sendiri: putar dari tabungan pribadi; ia bertemu founder muda yang melakukan penjualan miliaran per bulan yang mulai dari rumah tanpa uang eksternal.
  2. Pinjaman: meminjam dengan bunga, pertahankan equity penuh; equity adalah kendali, dan kehilangan 51% berarti kehilangan perusahaan.
  3. Franchise: untuk bisnis berbasis ruang, biarkan orang lain mendanai lokasi di bawah merek Anda.
  4. Kerja sama: bagi hasil dengan partner untuk cabang baru alih-alih raise.

Equity atau saham adalah kendali kita atas perusahaan. Begitu kita kehilangan 51%, itu bukan lagi perusahaan kita.

Contoh founder yang salah memperkirakan jumlah kebutuhan

Seorang founder berbasis Jogja dengan bisnis FNB yang mengoperasikan beberapa cabang dan traction miliaran per bulan mengirim pesan ke Suhardja meminta bantuan untuk raise dana. Ketika ditanya berapa, founder itu berkata "sekitar 500 miliar." Suhardja mempertanyakan mengapa jumlah sebesar itu diperlukan. Founder mengakui sebenarnya tidak tahu; ia membaca berita bahwa Kopi Kenangan raise jumlah dolar besar dan meniru ambisi itu.

Kasus ini menunjukkan kesalahan fundraising karena headline. Founder punya traction nyata namun tidak punya rencana untuk modal. Suhardja menggunakannya untuk membuktikan bahwa Anda harus menghitung kebutuhan pasti dari model bisnis, bukan dari cerita media.

Apa saran founder unicorn berpengalaman?

Suhardja berbagi bahwa beberapa founder unicorn Indonesia dan asing yang menjadi shareholder di Titipku memberinya penyesalan yang sama:

Saya menyesal menggalang terlalu banyak uang dari venture capital.

Mereka kini menasihatinya: jika tidak butuh, jangan ambil. Founder independen yang mempertahankan 100% equity mempertahankan kebebasan. Fundraising adalah pilihan, bukan ritual wajib.

Poin-Poin Utama

  • Pitch sendirian tidak menggalang uang; leverage dan timing yang menentukan hasil.
  • Raise hanya ketika tidak benar-benar butuh modal, atau investor akan mendikte syarat eksploitatif.
  • Investor bertindak sebagai shareholder, adviser, connector, dan lainnya — pilih mereka berdasarkan agenda yang dibawa, bukan sekadar cek.
  • Sebelum fundraising, habiskan alternatif seperti pinjaman, franchise, atau kesepakatan revenue-share untuk melindungi equity dan kendali.

Tonton sesinya

Tag

  • fundraising
  • startup pitching
  • angel investor
  • venture capital
  • founder leverage