Bagaimana Startup Awal di Indonesia Menentukan Valuasi?
6 Juni 2024
Ditulis dari #StartupLokal Meetup v.119 — Skystar Ventures: The Art of Business Valuation

Bagaimana Startup di Indonesia Menentukan Valuasi?
Saat pendiri startup tahap awal di Indonesia mulai mencari pendanaan, pertanyaan yang paling sering muncul adalah: "Perusahaan saya seharusnya bernilai berapa?" Abraham Hidayat, Managing Partner di Skystar Capital, menjelaskan bahwa valuasi bukan soal tebak-tebakan—tapi dibangun dari standar pasar, model keuangan, dan ekspektasi investor. Pendiri yang memahami dasar-dasar ini bisa menghindari valuasi terlalu tinggi atau menerima syarat yang tidak adil.
Apa Saja Istilah Pendanaan yang Harus Dipahami Pendiri?
Sebelum menetapkan valuasi, pendiri harus memahami istilah-istilah inti dalam pendanaan:
- Valuasi sebelum pendanaan (pre-money valuation) – Nilai perusahaan sebelum dana baru masuk.
- Valuasi setelah pendanaan (post-money valuation) – Valuasi sebelum ditambah jumlah pendanaan baru.
- Dilusi – Persentase kepemilikan yang dilepas saat mengumpulkan dana.
- Runway – Berapa lama perusahaan bisa bertahan tanpa kehabisan uang.
- Term sheet – Dokumen tidak mengikat yang merangkum syarat utama pendanaan.
Istilah-istilah ini bukan sekadar jargon—mereka dasar dalam negosiasi. Misalnya, jika pendiri mengumpulkan $100.000 dengan valuasi pre-money $400.000, maka post-money jadi $500.000, dan investor mendapat 20% kepemilikan (100k / 500k). Angka 20% ini adalah dilusi.
Berapa Valuasi Rata-Rata untuk Setiap Tahap Pendanaan?
Skystar Capital mencatat pola konsisten dalam ekosistem startup Indonesia:
- Pre-seed / Angel round: Valuasi pre-money antara $400.000 hingga $1 juta. Dana yang dikumpulkan: $100.000 hingga $200.000.
- Seed round: Valuasi pre-money sekitar $1 juta hingga $2 juta. Dana yang dikumpulkan: $300.000 hingga $500.000.
- Series A: Valuasi pre-money antara $2,5 juta hingga $5 juta. Dana yang dikumpulkan: $500.000 hingga $1 juta.
- Series B: Valuasi pre-money hingga $15 juta.
Rentang ini bukan aturan keras, tapi acuan. Membantu pendiri menetapkan ekspektasi yang realistis. Seperti yang dikatakan Hidayat: "Tidak jarang pendiri meminta valuasi tinggi tanpa revenue atau produk. Di situlah investor mulai kaget."
Mengapa Standar Pasar Jadi Langkah Pertama dalam Menetapkan Valuasi?
Langkah paling praktis dalam menetapkan valuasi adalah melihat standar pasar. Pendiri harus riset berapa yang dikumpulkan dan dengan valuasi berapa startup serupa di bidangnya.
Misalnya, jika startup healthtech di Jakarta berhasil mengumpulkan $1 juta dengan valuasi pre-money $5 juta, pendiri healthtech baru tidak seharusnya mengharapkan valuasi $10 juta tanpa bukti pertumbuhan nyata. Standar pasar mencegah pendiri menetapkan ekspektasi yang terlalu tinggi.
Hidayat menekankan: "Kami bukan turis di sini. Kami di sini untuk membantu pendiri. Kami paham tantangan lokal karena pernah melewatinya sendiri."
Bagaimana Cara Kerja Discounted Cash Flow (DCF) untuk Startup?
DCF adalah model keuangan untuk memperkirakan nilai perusahaan berdasarkan arus kas di masa depan. Intinya: uang hari ini lebih bernilai daripada uang nanti.
"Kalau saya tanya, mau pilih $10 juta sekarang atau $10 juta dalam 10 tahun? Semua pilih sekarang."
Jadi, arus kas di masa depan didiskonto ke nilai sekarang menggunakan tingkat diskonto—biasanya berdasarkan risiko dan biaya peluang. Contohnya:
- Perusahaan memperkirakan menghasilkan arus kas $6 juta di tahun ke-5.
- Dengan tingkat diskonto 10%, nilai $6 juta itu sekarang sekitar $3,7 juta.
Metode ini cukup teknis dan paling mudah dilakukan di Excel menggunakan fungsi NPV (Net Present Value). Meski DCF lebih umum digunakan untuk perusahaan matang, tetap jadi alat yang digunakan investor untuk menilai potensi jangka panjang.
"Ini bukan soal angka hari ini. Tapi soal nilai perusahaan lima tahun ke depan."
Bagaimana Multiple Pasar Membantu Menentukan Valuasi?
Untuk startup yang belum punya pendapatan stabil, multiple pasar jadi alternatif cepat dan praktis. Investor membandingkan startup dengan perusahaan publik di bidang yang sama.
Multiple umum yang digunakan:
- Price-to-Earnings (P/E) – Kapitalisasi pasar dibagi laba bersih.
- EV/EBITDA – Nilai perusahaan dibagi laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi.
- Price-to-Sales (P/S) – Kapitalisasi pasar dibagi pendapatan tahunan.
- Price-to-GMV – Kapitalisasi pasar dibagi nilai total barang yang terjual (umum di marketplace).
- Price-to-Loan Book – Digunakan di fintech, berdasarkan total pinjaman yang masih berjalan.
Misalnya, jika perusahaan SaaS serupa di Indonesia diperdagangkan dengan multiple P/S 5x, dan startup Anda punya pendapatan tahunan $1 juta, valuasi yang masuk akal adalah $5 juta.
"Kami lihat perbandingan pasar publik. Berapa multiple perusahaan terdaftar di bidang yang sama? Lalu kami terapkan ke startup."
Metode ini sangat berguna untuk startup tahap awal yang belum untung.
Apa Saja yang Mempengaruhi Valuasi?
Selain DCF dan multiple, investor juga mempertimbangkan:
- Transaksi sebelumnya (precedent transactions) – Bagaimana startup serupa dinilai di putaran pendanaan sebelumnya.
- Catatan pendiri – Pendiri dengan riwayat sukses bisa mendapat valuasi lebih tinggi.
- Waktu pasar – Permintaan tinggi di sektor tertentu (seperti AI atau healthtech) bisa dorong valuasi naik.
- Keunggulan pertama masuk pasar (first-mover advantage) – Jadi alasan logis untuk nilai premium.
Hidayat menekankan: "Tidak ada satu metode yang bisa menjawab semua. Kami gabungkan semuanya."
Mengapa Pendiri Harus Hindari Valuasi Terlalu Tinggi?
Overvaluation adalah kesalahan umum. Pendiri yang meminta valuasi $10 juta pre-money tanpa revenue atau produk bisa membuat investor jengkel. Seperti kata Hidayat:
"Tidak mustahil, tapi jarang. Dan saat terjadi, investor langsung waspada."
Valuasi realistis membangun kepercayaan. Menunjukkan pendiri paham pasar dan terbuka untuk negosiasi. Juga memastikan perusahaan bisa mengumpulkan putaran selanjutnya tanpa dilusi ekstrem.
Cara Persiapan untuk Putaran Pendanaan Berikutnya
- Riset standar pasar – Ketahui berapa yang dikumpulkan startup serupa.
- Gunakan multiple sebagai acuan – Terutama jika masih tahap awal.
- Buat model DCF – Meski tidak langsung dipakai, membantu memikirkan arus kas masa depan.
- Siap jelaskan asumsi Anda – Investor akan tanya alasannya memilih valuasi tertentu.
- Jaga dilusi di bawah 20% per putaran – Ini batas sehat.
"Tujuannya bukan dapat valuasi tertinggi. Tapi bangun perusahaan berkelanjutan dengan investor yang percaya pada visi Anda."
Poin Penting
- Pendiri sebaiknya gunakan standar pasar sebagai dasar valuasi, terutama di tahap awal.
- Valuasi pre-money adalah titik awal; post-money adalah pre-money ditambah pendanaan.
- Dilusi idealnya di bawah 20% per putaran pendanaan.
- Model DCF menilai arus kas masa depan, tapi lebih relevan untuk startup tahap lanjut.
- Multiple pasar (P/S, EV/EBITDA, dll) adalah alat praktis untuk startup awal tanpa pendapatan.