Lompat ke konten
#StartupLokal

Bagaimana Pertemuan Bulanan Startup Memicu Lahirnya Telunjuk.com di Indonesia

23 Agustus 2026

Pertemuan bulanan di Jakarta mengumpulkan insinyur, investor, hingga remaja seumur SMP—beberapa bahkan sudah punya perusahaan sendiri. Salah satunya, Redia Febrianto, memanfaatkan ruang itu untuk mengubah ide jadi Telunjuk.com, platform yang membantu pengguna menemukan produk di ratusan toko daring dalam satu tempat. Perjalanan tidak mudah, tapi komunitas, bimbingan, dan ketekunan membuatnya mungkin.

Komunitas Startup yang Tumbuh dari Pertemuan Sederhana

Startup Lokal digelar sebulan sekali dan menarik antara 150 hingga 200 peserta. Peserta datang dari berbagai latar belakang. Ada yang sudah berusia 50-an tahun, profesional berpengalaman. Ada juga remaja yang sudah memiliki PT. Salah satu peserta bahkan mendirikan perusahaan saat masih duduk di kelas 7 SMP. Pendiri Telunjuk.com sering menampilkan slide situs yang dibuat siswa SMA untuk mengingatkan bahwa usia bukan penghalang untuk membangun sesuatu yang nyata.

Acara ini terbuka untuk semua orang. Tidak ada biaya keanggotaan, tidak ada struktur formal. Gratis hadir, ada makanan, dan berlangsung dari sore hingga pukul 22.00. Satu-satunya syarat: datang. Pendiri menyebut semua panitia adalah pengusaha yang juga sibuk, jadi tidak punya waktu untuk bangun sistem rumit. Tujuannya sederhana: menciptakan ruang di mana ide bertemu orang.

Mengapa pertemuan tak formal penting bagi startup

Di negara dengan banyak asosiasi bisnis formal, Startup Lokal menonjol karena tidak terstruktur. Tidak ada dewan resmi, tidak ada aturan, tidak ada pendaftaran. Tapi justru bekerja. Pendiri menyebut nilai utamanya adalah koneksi. Orang datang bukan hanya untuk mendengar ceramah, tapi mencari orang yang bisa membantu mereka membangun.

Ia menjelaskan, menemukan "hustler" sejati—orang yang punya dorongan kuat, siap mengambil risiko, dan tidak takut gagal—lebih sulit daripada menemukan developer atau desainer. Mereka jarang muncul di forum daring. Tidak aktif di media sosial. Tapi di pertemuan langsung, mereka muncul. Ruang itu menjadi tempat peleburan, di mana orang dari latar belakang berbeda bertemu secara kebetulan dan membentuk tim.

Lahirnya Telunjuk.com dari Ide di Pertemuan

Telunjuk.com lahir bukan di ruang rapat, tapi dari percakapan di salah satu meetup ini. Saat itu, pendiri masih bekerja penuh waktu. Ia punya ide produk, tapi belum tahu cara menjadikannya bisnis. Ia melihat komunitas Startup Lokal sebagai jalan untuk belajar, bersosialisasi, dan berkembang.

Ia bergabung, membagikan ide, dan akhirnya mendapat dukungan dari anggota lain. Program pelatihan pun dibuat untuk membantu tim mengembangkan ide. Setelah beberapa bulan mengasah konsep, ia dan tim memutuskan berhenti dari pekerjaan tetap dan fokus penuh membangun bisnis.

Apa yang dilakukan Telunjuk.com untuk pengguna

Telunjuk.com berfungsi seperti mesin pencari produk daring. Pengguna tidak perlu bolak-balik ke banyak e-commerce—A, B, C, D—tapi cukup ke satu tempat. Platform mengumpulkan data dari lebih dari 60 toko daring yang telah menandatangani kesepakatan khusus. Toko-toko ini membayar untuk terdaftar, dan Telunjuk.com mendapat komisi jika pengguna membeli lewat platform.

Platform ini tidak menjual produk sendiri. Ia menghubungkan pengguna ke penjual. Ia juga memastikan hanya toko terpercaya yang muncul. Pendiri menyebut tujuannya adalah menghemat waktu dan mengurangi beban mental saat belanja daring. Seluruh desain proses berputar di sekitar satu pertanyaan: produk apa yang harus saya beli, dan dari siapa?

Apa yang Sebenarnya Dicari Pembeli Daring di Indonesia

Saat ditanya soal perilaku konsumen di Indonesia, pendiri menyebut harga tetap menjadi faktor utama. Orang sangat sensitif terhadap harga. Tapi di luar itu, kepercayaan terhadap merek juga penting. Banyak pengguna memilih produk yang sedikit lebih mahal jika mereka mengenal nama penjual atau pernah pakai layanannya sebelumnya.

Insight ini membentuk cara Telunjuk.com menampilkan hasil. Platform tidak hanya menampilkan harga terendah. Ia menyoroti toko dengan reputasi kuat, meski harganya sedikit lebih tinggi. Pendiri menyebut keseimbangan antara harga dan kepercayaan itulah yang benar-benar diinginkan pengguna.

Bagaimana platform menghasilkan uang

Telunjuk.com menghasilkan pendapatan melalui model bagi hasil. Jika pengguna klik produk dan beli, toko membayar komisi. Platform tidak menarik biaya dari pengguna. Ia hanya dapat uang jika terjadi penjualan. Model ini menjaga pengalaman pengguna tetap bersih dan fokus pada nilai.

Pendiri menyebut mereka tidak ingin jadi marketplace. Mereka adalah alat penemuan. Tugas mereka adalah membantu pengguna menemukan yang mereka cari lebih cepat, bukan mengendalikan transaksi.

Tantangan Nyata Meninggalkan Pekerjaan Tetap

Pendiri mengakui, berhenti dari pekerjaan tetap bukan lompatan langsung ke kesuksesan. Bulan-bulan awal sangat berat. Tidak ada penghasilan. Ia dan pasangannya harus menanggung keluarga. Tekanan sangat besar. Ia mengaku cemas setiap hari, khawatir apakah mereka bisa bertahan.

Tapi mereka terus maju. Mereka kerja keras mengembangkan produk, menguji fitur, menghubungi toko, dan perlahan membangun basis pengguna. Setelah berbulan-bulan berjuang, hasil mulai terlihat. Bisnis berkembang. Pendapatan meningkat. Yang paling penting, mereka jadi lebih bahagia.

Mengapa kebahagiaan penting dalam entrepreneurship

Pendiri menyebut kemenangan sejati bukan uang. Tapi kebebasan membangun sesuatu yang diyakini. Mereka tidak lagi bekerja untuk perusahaan. Mereka membangun yang sendiri. Mereka membuat keputusan. Melihat dampak. Rasa tujuan ini membawa kebahagiaan lebih besar daripada gaji tetap.

Ia bilang, orang sering berpikir berhenti kerja berarti sukses instan. Itu salah. Jalan panjang. Penuh kegagalan, ketidakpastian, dan rasa takut. Tapi hadiahnya bukan hanya finansial—tapi pribadi. Membangun sesuatu dari nol mengubah siapa diri Anda.

Apa yang Selanjutnya untuk Telunjuk.com dan Komunitas Startup

Ke depan, pendiri punya dua tujuan. Pertama, mengembangkan Telunjuk.com menjadi platform bimbingan pilihan universitas bagi pelajar. Ia melihat celah dalam panduan bagi siswa SMA yang bingung memilih kampus. Platform bisa memberi saran, membandingkan program, dan menghubungkan siswa dengan mentor.

Kedua, terus mengembangkan komunitas Startup Lokal. Ia percaya, pada 2020, Indonesia bisa punya setidaknya satu startup yang go public. Saat itu, cara dunia melihat startup Indonesia akan berubah. Investor mulai bicara dalam triliunan, bukan jutaan. Peran komunitas adalah terus membangun, belajar, dan tetap bertahan.

Cara ikut serta di ekosistem startup

Pendiri mengajak siapa saja—terutama anak muda—untuk bergabung dalam meetup ini. Anda tidak perlu gelar, rencana bisnis, atau bahkan produk. Cukup datang. Ruangnya terbuka. Orangnya nyata. Ceritanya nyata.

Ia bilang, cara belajar terbaik adalah dengan melakukan. Yang terburuk adalah menunggu. Jika punya ide, bawa ke meetup. Jika ragu, tetap datang. Mungkin Anda bertemu orang yang bisa membantu. Mungkin temukan tim. Mungkin mulai sesuatu.

Poin-Poin Kunci

  • Startup Lokal adalah pertemuan bulanan di Jakarta tanpa biaya, tanpa keanggotaan, dan tanpa aturan formal. Mengundang berbagai usia dan latar belakang, termasuk remaja yang sudah punya perusahaan.
  • Telunjuk.com lahir dari ide yang dibagikan di meetup Startup Lokal. Pendiri berhenti dari pekerjaan tetap setelah berbulan-bulan mengembangkan ide bersama komunitas.
  • Platform membantu pengguna menemukan produk di banyak toko daring dalam satu tempat, fokus pada kepercayaan dan kemudahan, bukan hanya harga terendah.
  • Pembeli daring di Indonesia memprioritaskan harga, tapi juga kepercayaan terhadap merek, yang memengaruhi cara Telunjuk.com menampilkan hasil.
  • Membangun startup bukan jalan cepat menuju sukses. Dibutuhkan ketekunan, risiko finansial, dan ketahanan emosional. Hadiah sejatinya adalah kemampuan menciptakan sesuatu yang bermakna.

Tag

  • Indonesia startups
  • Telunjuk.com
  • startup community
  • entrepreneurship
  • product discovery
  • early-stage startup