#StartupLokal

Cara Perusahaan Acara Langsung Bertahan Saat Pandemi dengan Berpindah ke Streaming Digital

24 September 2020

Ditulis dari #StartupLokal Meetup v.106 — Indigo x #StartupLokal Meetup: Pivot and Flexing from Offline to Online Events

Cara Perusahaan Acara Langsung Bertahan Saat Pandemi dengan Berpindah ke Streaming Digital

Cara Perusahaan Acara Langsung Bertahan Saat Pandemi dengan Berpindah ke Streaming Digital

Ketika pembatasan lockdown di Indonesia menghentikan semua acara langsung pada 2020, Ben Soebiakto menghadapi krisis: perusahaannya, Samara Media Entertainment, telah merancang enam hingga tujuh festival besar secara offline. Tanpa izin berkumpul, tidak ada penjualan tiket, dan tim dalam kepanikan, ia mengambil keputusan radikal—berpindah ke dunia digital. Yang terjadi bukan sekadar bertahan, tapi transformasi yang membawa acara dengan 1,8 juta penonton, sponsor baru, dan pemahaman mendalam tentang jangkauan digital.

Perjalanan ini tak dimulai dengan strategi besar, tapi dengan ide sederhana: Bagaimana jika kita bantu orang, bukan cuma jual tiket?

Apa yang Terjadi Saat Acara Offline Dibatalkan

Di awal 2020, Samara Media sudah memesan talenta, menandatangani venue, dan menjual ribuan tiket untuk acara besar seperti Saidi Fest dan konser ulang tahun ke-10 Raisa. Lalu, pada bulan Maret, pemerintah menerapkan pembatasan sosial ketat. Semua acara dibatalkan. Perusahaan terjun bebas secara finansial—tidak ada pendapatan, tapi tetap harus membayar staf, vendor, dan pajak.

"Kami kaget berat," kenang Ben. "Kami tidak tahu berapa lama ini akan berlangsung. Ketakutan bukan hanya soal ekonomi—tapi juga emosional. Kami melihat seluruh industri ini mati perlahan."

Tapi alih-alih menunggu izin kembali, tim Ben mulai bertanya: Apa yang bisa kita lakukan sekarang?

Lahirnya LivestreamFails: Acara Berbasis Donasi

Titik balik datang saat seorang anggota tim yang dipercaya, seorang kreator media bernama Ramadan, mengusulkan ide: Mari buat konser digital untuk para kreator yang sedang krisis.

Awalnya, Ben ragu. "Bagaimana livestream bisa menggantikan energi penonton langsung?" pikirnya. Tapi ide ini bukan soal keuntungan. Ini soal tujuan: membantu musisi tetap bekerja, mendukung UMKM yang kesulitan, dan memberi harapan pada orang-orang.

"Kita lakukan untuk orang, bukan uang," ujar Ben. "Meski rugi, kita tetap melakukan sesuatu yang bermakna."

Dalam waktu 10 hari, mereka meluncurkan LivestreamFails—festival digital multi-format. Acara ini menyajikan musik langsung, komedi, masak-memasak, dan sesi kesehatan mental. Mereka berkolaborasi dengan Emtek (perusahaan induk TVRI dan Kompas TV), menggaet sponsor seperti Indofood dan Ozy, serta menggunakan platform donasi untuk membiayai acara.

Acara pertama berhasil mengumpulkan ratusan juta rupiah dari donasi. Yang lebih penting, acara ini menjangkau 132.000 penonton—jauh melampaui 20.000 penonton yang biasanya hadir di acara offline di JCC.

Mengapa Acara Digital Lebih Unggul dalam Jangkauan

Ben menyadari satu kebenaran penting: Acara offline bersifat lokal. Acara digital bersifat nasional.

  • Offline: 80% penonton berasal dari Jakarta. Sisanya dari kota-kota terdekat seperti Surabaya atau Jogja.
  • Digital: Hanya 30% penonton berasal dari Jakarta. Orang-orang dari Medan, Sumatra, Kalimantan, bahkan Papua turut hadir.

"Dulu kami pikir sudah menjangkau audiens luas," kata Ben. "Tapi sebenarnya kami hanya menjangkau Jakarta. Sekarang, kami menjangkau seluruh negeri."

Perubahan ini memberi nilai baru bagi sponsor. Merek yang sebelumnya hanya bisa menjangkau audiens di Jakarta kini bisa menyentuh masyarakat di daerah terpencil.

Bagaimana Model Pendapatan Berubah

Model lama—jual tiket, kumpulkan biaya, untung—tidak lagi berlaku di dunia digital. Orang mengharapkan konten gratis. Maka Ben harus merevisi pendekatan pendapatan.

Model baru: Sponsorship + Acara Berbasis Tujuan

  • Alih-alih jual tiket, fokus pada menarik sponsor yang ingin mendukung isu sosial.
  • Acara dibuat dengan misi: membantu UMKM, mengangkat kreator, mendukung kesehatan mental.
  • Sponsor melihat nilai bukan dari penjualan tiket, tapi dari eksposur merek, jangkauan audiens, dan tanggung jawab sosial.

"Kami berhenti bertanya, 'Bagaimana caranya dapat uang?' dan mulai bertanya, 'Bagaimana kita menciptakan nilai?' Ben menambahkan, "Itu saat sponsor mulai datang."

Kekuatan Kolaborasi

Samara tidak berjalan sendiri. Mereka mengandalkan kemitraan:

  • Grup media: Bekerja sama dengan Kompas, RCTI, dan KapanLagi—yang biasanya kompetitor, tapi jadi rekan dalam krisis.
  • Influencer & kreator: Mengundang YouTuber, komedian, dan musisi yang juga terjebak di rumah.
  • Platform: Memanfaatkan infrastruktur streaming dan alat donasi dari Emtek.

"Kunci utamanya adalah melepaskan egonya," kata Ben. "Kita tidak harus menang setiap kali. Kita hanya perlu membantu. Kalau kita lakukan, orang lain akan ikut."

Bagaimana Tim Tetap Solid Saat Terisolasi

Dengan tim bekerja dari rumah, Ben menghadapi tantangan baru: menjaga semangat tim.

Ia memperkenalkan Townhall mingguan—bukan hanya rapat kerja, tapi sesi menyenangkan dan penuh dukungan. Mereka bermain game, berbagi cerita pribadi, dan merayakan pencapaian kecil.

Ia juga meluncurkan kompetisi internal: "Ideafest Freestyle"—tantangan bagi karyawan untuk mengusulkan ide acara kreatif baru. Pemenang mendapat hadiah Rp1 juta.

"Kami gunakan krisis untuk membangun kembali budaya perusahaan," kata Ben. "Kami bertanya: Perusahaan seperti apa yang ingin kita jadi? Nilai-nilai apa yang penting?"

Jawabannya: Agilitas, empati, dan terbuka.

Pelajaran untuk Pendiri yang Menghadapi Perubahan Mendadak

Ben berbagi empat pelajaran utama:

  1. Ubah pola pikir – Berhenti memikirkan apa yang hilang. Fokus pada apa yang bisa dilakukan sekarang.
  2. Terima kolaborasi – Tidak harus sendiri. Bekerja sama dengan orang lain, bahkan pesaing.
  3. Utamakan tim – Orang adalah aset terbesar. Periksa kesehatan mental mereka. Bangun kepercayaan.
  4. Uji cepat, belajar lebih cepat – Jangan menunggu sempurna. Launch kecil, pelajari, dan perbaiki.

Apa yang Selanjutnya? Masa Depan Hibrida

Ben tidak percaya kembali ke cara lama. Ia melihat masa depan hibrida:

  • Acara offline akan kembali, tapi hanya jika aman.
  • Acara online akan tetap menjadi bagian inti bisnis.
  • Acara terbaik akan menggabungkan keduanya: pengalaman fisik dengan akses digital.

"Kami bukan sekadar promotor acara lagi," katanya. "Kami pembangun pengalaman. Dan kami telah membuktikan bahwa digital bisa kuat, inklusif, dan bermakna."

Poin-Poin Kunci

  • Acara offline terbatas oleh geografi; acara digital bisa menjangkau seluruh negeri.
  • Sponsorship lebih efektif daripada penjualan tiket di ranah digital jika dikaitkan dengan tujuan sosial.
  • Budaya tim sangat penting saat krisis—pemeriksaan rutin dan aktivitas menyenangkan mencegah burnout.
  • Kolaborasi dengan pesaing bisa membuka peluang baru saat sulit.
  • Pivot terbaik bukan meniru model lama—tapi menciptakan sesuatu yang baru yang sesuai realitas baru.

Tonton sesinya

Tag

  • pivoting business
  • online events
  • event management
  • startup resilience
  • digital transformation