Bagaimana Seorang Perempuan di Teknologi Bangun Warisan 20 Tahun dari Inspirasi Neneknya
Ditulis dari #StartupLokal Meetup v.64: Kartini in Indonesia Digital Industry

Dalam artikel ini
- Apa Artinya Jadi Pendiri Startup Teknologi Serangkaian di Indonesia
- Mengapa 1996 Penting bagi Teknologi Indonesia
- Bagaimana Neneknya Membentuk Pola Pikirnya
- Makna Sejati Jadi Perempuan di Teknologi
- Perubahan dari Pendiri Jadi Mentor
- Mengapa Ia Memilih Berbicara Sendiri di Pertemuan
- Kekuatan Hadir
- Apa yang Bisa Dipelajari Perempuan di Tech dari Dirinya
- Poin Kunci
Apa Artinya Jadi Pendiri Startup Teknologi Serangkaian di Indonesia
Shinta Dhanuwardoyo mulai membangun startup teknologi sejak 1996, sebelum Google, Yahoo, atau Facebook ada. Ia menyebut dirinya pendiri startup serangkaian karena telah meluncurkan banyak usaha selama lebih dari 20 tahun. Perusahaan pertamanya didirikan saat internet masih jadi hal asing di Indonesia. Saat itu, banyak orang melihat teknologi sebagai konsep asing. Tapi Shinta melihatnya sebagai alat perubahan.
Ia tak mulai dengan rencana jadi pendiri. Ia mulai dari rasa penasaran. Ia ingin tahu bagaimana komputer bekerja. Ia ingin membuat sesuatu. Dorongan itu membawanya ke perusahaan pertamanya, jauh sebelum istilah "startup" jadi umum di Indonesia.
Perjalanannya tak lurus. Ia tak selalu sukses. Tapi setiap kegagalan mengajarkannya sesuatu. Ia belajar berpindah arah, mendengarkan pengguna, dan terus maju saat tak ada yang percaya pada idenya.
"Sebetulnya antara tahun 1996 sampai sekarang ini, kesannya tuh saya banyak sudah melakukan yang kedengarannya sukses ya, cuman sebetulnya yang yang enggak sukses pun banyak sekali."
Ia tak menyembunyikan kegagalannya. Ia malah membagikannya. Karena tahu bahwa kemajuan sejati tak datang dari berpura-pura semuanya sempurna, tapi dari menunjukkan proses yang kacau.
Mengapa 1996 Penting bagi Teknologi Indonesia
Mulai di 1996 berarti Shinta salah satu dari yang pertama di Indonesia yang melihat teknologi sebagai peluang bisnis. Banyak orang masih melihat komputer sebagai alat kantor atau sekolah. Ia melihatnya sebagai platform inovasi.
Ia tak punya akses ke modal ventura. Tak punya mentor. Bahkan tak punya jalur jelas. Tapi ia punya satu hal: keyakinan bahwa ia bisa membuat sesuatu yang baru.
Keyakinan itu jadi fondasi. Membawanya melewati tahun-tahun internet lambat, investor yang tak paham visinya, bahkan keluarga yang meragukan apakah ia buang waktu saja.
Gabung #StartupLokal
Komunitas ini sudah bertemu di Jakarta sejak April 2010. Mendaftar gratis dan cuma butuh satu menit.
Bagaimana Neneknya Membentuk Pola Pikirnya
Pengaruh terbesar Shinta bukanlah tokoh bisnis. Ia adalah neneknya, Ibu Supeni.
"She's my inspiration and she happens to be my grandmother. Ada yang pernah tahu Ibu Supeni?"
Ibu Supeni adalah diplomat pada era Presiden Sukarno. Ia pernah menjabat sebagai duta besar, termasuk duta khusus ke Amerika Serikat. Gambarannya muncul di koran dan majalah. Shinta tumbuh di tengah cerita-cerita tentang keberanian, kecerdasan, dan kemandirian neneknya.
Ia menyimpan koran lama, artikel yang dipotong, dan buku-buku. Shinta tak hanya mengagumi neneknya. Ia mempelajarinya. Ia melihat seorang perempuan yang memecah batas di masa ketika sedikit perempuan menempati posisi publik.
"That was my first investment di Nusantara Ventures ya."
Ia tertawa saat mengatakan itu. Tapi maknanya jelas: kehidupan neneknya adalah pelajaran pertamanya tentang kepemimpinan. Mengajarkannya bahwa perempuan bisa memimpin, bisa mewakili negara, dan bisa membentuk sejarah.
Makna Sejati Jadi Perempuan di Teknologi
Pada pertemuan #StartupLokal 2016, Shinta berbicara dalam acara khusus peringatan Hari Kartini. Ia tak menyampaikan cerita sukses. Ia menyampaikan warisan.
Ia bilang kepada audiens, termasuk banyak perempuan muda, bahwa mereka tak perlu izin untuk memimpin.
"I'm not selling anything, I'm selling you. I want you to remember, especially if you're a woman. Remember that we created the trends. Of course, technology created the trends also, but without us, it would not be the same trends."
Ia tak bicara soal coding atau aplikasi. Ia bicara tentang visi. Tentang keberanian. Tentang kekuatan membentuk apa yang akan datang.
Ia mengingatkan perempuan di ruangan itu bahwa mereka tak tertinggal. Tak terlambat. Tak eksklusif. Mereka adalah pencipta.
Perubahan dari Pendiri Jadi Mentor
Kini, Shinta bukan lagi hanya pendiri. Ia jadi investor angel dan mentor startup. Ia mendukung perusahaan tahap awal, terutama yang dipimpin perempuan.
Ia tak cuma menulis cek. Ia hadir. Ia berbagi jaringan. Ia bantu pendiri hindari kesalahan yang pernah ia buat.
Ia pernah ingin berinvestasi di startup Natalia Riantoyo. Natalia menolak. Tapi Shinta tak berhenti. Ia tetap menjadi mentor bagi Natalia dan timnya.
"I did a lot of mentoring for Natali and his team, am I right?"
Momen itu menunjukkan filosofinya: dukungan datang dalam banyak bentuk. Tak perlu jadi investor untuk bermanfaat. Bisa jadi panduan, pendengar, atau orang yang bilang, "Saya pernah lewati ini. Biar saya bantu kamu lebih cepat."
Tahu kapan meetup berikutnya
Meetup diumumkan di grup WhatsApp.
Mengapa Ia Memilih Berbicara Sendiri di Pertemuan
Nunik Tirtasari, pendiri Sara Local, sengaja memilih bukan panel. Ia mengundang Shinta berbicara sendiri.
"Karena aku pikir Bu Sinta banyak banget yang bisa digali dari Bu Sinta ini pengalamannya itu."
Ia tahu kisah Shinta terlalu kaya untuk dibahas dalam diskusi kelompok. Perjalanannya membentang dua dekade. Ia melihat setiap fase evolusi digital Indonesia. Ia gagal. Ia sukses. Ia bangun tim. Ia kehilangan tim.
Ruang itu bukan untuk dengar presentasi rapi. Ia untuk dengar cerita seorang perempuan yang hidup dalam perjuangan.
Kekuatan Hadir
Shinta datang ke acara pukul 19.30. Ia baru turun dari pesawat pukul 01.00. Lelah. Suaranya lelah. Tapi ia tetap naik ke atas panggung.
Ia tak minta maaf karena lelah. Tak bilang, "Saya nggak dalam kondisi terbaik hari ini." Ia bilang, "Ayo kita lakukan saja."
Itu pelajaran yang ia tinggalkan. Bukan soal bangun startup. Tapi soal hadir, terutama saat sulit.
Ia tak perlu sempurna. Ia hanya perlu hadir.
Apa yang Bisa Dipelajari Perempuan di Tech dari Dirinya
- Tak perlu jadi yang pertama. Cukup jadi yang berikutnya.
- Masa lalu tak menentukan masa depan. Warisan nenek bisa jadi bahan bakar.
- Kegagalan bukan jalan buntu. Ia titik data.
- Tak perlu jadi pendiri untuk memimpin. Bisa jadi mentor, investor, atau suara.
- Cara terbaik mengubah sistem adalah dengan menjalankannya.
"So, from IBM, my name is Pandu. You can find me at mbapandu.com, seriously."
Ia tertawa di akhir. Tapi pesannya jelas: semua punya peran. Bahkan jika tak di atas panggung, tak jadi pendiri, bahkan jika baru mulai.
Revolusi bukan hanya untuk yang punya ide terbesar. Ia untuk yang terus hadir.
Poin Kunci
- Shinta Dhanuwardoyo membangun startup teknologi sejak 1996, jauh sebelum istilah "startup" umum di Indonesia.
- Neneknya, Ibu Supeni, adalah diplomat dan sumber inspirasi utama, mengajarkannya bahwa perempuan bisa memimpin dan membentuk sejarah.
- Ia terbuka soal kegagalan, menekankan bahwa sukses datang dari ketekunan, bukan kesempurnaan.
- Kini ia menjadi mentor startup dan berinvestasi di perusahaan tahap awal, terutama yang dipimpin perempuan.
- Pesannya untuk perempuan di tech: kalian tak tertinggal. Kalian tak terlambat. Kalian adalah pencipta tren.




