#StartupLokal

Bagaimana Startup Bisa Ubah Krisis Pandemi Jadi Peluang Strategis dengan Perencanaan Skenario

2 April 2020

Ditulis dari #StartupLokal Meetup v.101 — WFH SPECIAL - Indigo x #StartupLokal Webinar: How to Create Scenario Planning in COVID-19 Pandemic

Bagaimana Startup Bisa Ubah Krisis Pandemi Jadi Peluang Strategis dengan Perencanaan Skenario

Di awal pandemi COVID-19, startup di Jakarta dan seluruh Indonesia dihadapkan pada ketidakpastian yang tak pernah terjadi sebelumnya. Dalam webinar #StartupLokal, Dr. Dina Dellyana memperkenalkan pendekatan terstruktur dalam perencanaan skenario yang membantu pendiri startup mengubah kekacauan menjadi kejelasan. Dengan memetakan secara sistematis kekuatan eksternal, mengelompokkannya berdasarkan dampak dan ketidakpastian, serta menyusun strategi yang bisa dijalankan, startup bisa memprediksi risiko, mengenali peluang, dan membuat keputusan lebih baik—bahkan saat masa depan tidak jelas.

Ubah Krisis Jadi Peluang Strategis

Inti dari pemikiran Dr. Dina sangat sederhana: ketidakpastian bukan sekadar ancaman—ia adalah sinyal. Saat krisis datang, pendiri startup yang sukses tidak hanya bereaksi. Mereka mengubah cara melihat situasi. "Kalau kamu cerdas, kamu bisa ubah masalah ini jadi peluang," ujarnya. Kuncinya adalah beralih dari mindset bertahan hidup ke adaptasi strategis.

Ini bukan soal menebak masa depan. Ini tentang mempersiapkan diri untuk beberapa masa depan yang mungkin terjadi. Dengan menyusun skenario, startup bisa menguji asumsi, menguji ketahanan rencana, dan mengembangkan respons yang lincah dan tangguh. Proses ini mengubah kecemasan jadi tindakan, ketakutan jadi inovasi.

Langkah 1: Pindai Kekuatan Penggerak di 4 Dimensi

Langkah pertama adalah mengidentifikasi semua faktor eksternal yang bisa memengaruhi bisnis. Dr. Dina merekomendasikan kerangka PESTEL—Politik, Ekonomi, Sosial, Teknologi—tapi diperluas dengan dimensi Lingkungan dan Hukum.

Jangan langsung daftar ide acak. Mulailah dengan bertanya: Apa yang sedang berubah di dunia saat ini yang bisa memengaruhi kita?

Apa yang perlu dicari di setiap kategori:

  • Sosial: Perilaku masyarakat berubah seperti apa? Misalnya, saat lockdown, orang lebih banyak di rumah, sehingga permintaan terhadap hiburan daring, layanan makanan online, dan peralatan kerja dari rumah meningkat.
  • Teknologi: Apakah alat baru muncul yang bisa mengganggu atau memungkinkan bisnis kita? Drone pengiriman, pemantauan jarak jauh, dan sistem pembayaran tanpa sentuh menjadi krusial.
  • Ekonomi: Apa yang terjadi dengan pengeluaran, inflasi, atau stimulus pemerintah? Konsumen memangkas belanja tak penting, tapi permintaan produk esensial seperti makanan dan produk kebersihan naik.
  • Politik: Apakah ada regulasi baru, pembatasan perdagangan, atau pergeseran prioritas pemerintah? Misalnya, larangan ekspor alat kesehatan atau insentif pajak untuk UMKM.
  • Lingkungan: Apakah isu iklim atau gangguan lokal memengaruhi rantai pasokan atau operasional? Kualitas udara, kekeringan, atau lockdown lokal bisa jadi relevan.

Tujuannya bukan mencatat semua hal. Tapi mengumpulkan berbagai kemungkinan—jumlah dulu, kualitas belakangan.

Langkah 2: Kelompokkan Kekuatan Berdasarkan Dampak dan Ketidakpastian

Setelah memiliki daftar 20–30 kekuatan penggerak, langkah selanjutnya adalah memetakan mereka dalam grid dua dimensi:

  • Sumbu X: Ketidakpastian (seberapa bisa diprediksi kekuatan ini?)
  • Sumbu Y: Dampak (seberapa besar pengaruhnya terhadap bisnis kita?)

Gunakan grid ini untuk mengelompokkan:

  • Dampak Tinggi, Ketidakpastian Tinggi (Merah): Paling kritis. Tidak bisa dikendalikan, tapi bisa menentukan nasib bisnis. Contoh: Pandemi berlangsung 6 bulan atau 2 tahun?
  • Dampak Tinggi, Ketidakpastian Rendah (Oranye): Sudah pasti terjadi, tapi tak bisa dicegah. Contoh: Konsumen memangkas belanja mewah.
  • Dampak Rendah, Ketidakpastian Tinggi (Kuning): Menarik, tapi tidak mendesak. Contoh: Startup teknologi baru di pasar niche.
  • Dampak Rendah, Ketidakpastian Rendah (Hijau): Prioritas rendah. Contoh: Perubahan kebijakan kecil yang hanya berdampak di satu wilayah.

Fokus hanya pada zona merah dan oranye. Inilah yang harus mendapat perhatian utama.

Langkah 3: Susun 4 Skenario Inti

Dari 2–3 kekuatan utama, buat empat kemungkinan masa depan dengan menggabungkan hasil positif dan negatifnya.

Misalnya, jika kekuatan kunci Anda adalah:

  1. Perubahan konsumsi energi (banyak orang beralih ke kendaraan listrik)
  2. Regulasi lingkungan semakin ketat (pemerintah dorong energi bersih)

Anda bisa menyusun empat skenario:

  1. Kasus Terbaik: Orang beralih ke mobil listrik cepat DAN regulasi dilonggarkan → Permintaan tinggi untuk teknologi energi bersih.
  2. Kasus Terburuk: Orang tetap pakai bahan bakar fosil DAN regulasi ketat → Biaya kepatuhan tinggi, permintaan rendah.
  3. Kasus Campuran 1: Orang beralih ke EV tapi regulasi tetap ketat → Harus cepat berinovasi untuk memenuhi standar.
  4. Kasus Campuran 2: Orang tetap pakai fosil tapi regulasi longgar → Biaya lebih rendah, tapi risiko jangka panjang tinggi.

Setiap skenario jadi narasi. Tulis seperti cerita: Dunia seperti apa? Apa yang dilakukan pelanggan? Apa yang dilakukan pesaing?

Langkah 4: Identifikasi Tantangan, Lalu Ubah Jadi Peluang Inovasi

Untuk setiap skenario, tanya: Apa tantangan terbesar?

Lalu balikkan logikanya: Bagaimana tantangan ini bisa jadi peluang?

Contoh:

  • Tantangan: Beban regulasi tinggi membuat sulit meluncurkan produk baru.
  • Peluang: Bangun inkubator startup untuk bantu startup teknologi hijau melewati proses kepatuhan lebih cepat.

Dr. Dina menekankan: "Jangan cuma bereaksi. Berinovasi. Ubah titik lemah jadi lini produk berikutnya."

Langkah 5: Gunakan Pohon Keputusan untuk Pilih Aksi

Sekarang, untuk setiap skenario, identifikasi 2–3 aksi utama. Gunakan pohon keputusan untuk mengevaluasi masing-masing.

Misalnya, jika tantangannya biaya operasional tinggi:

  • Aksi 1: Pisahkan aset yang tidak menguntungkan jadi perusahaan baru.
    • Pilihan A: Bangun sendiri → Biaya tinggi, kendali penuh.
    • Pilihan B: Kolaborasi dengan investor → Biaya lebih rendah, kepemilikan bersama.
  • Aksi 2: Jual aset dengan diskon.
    • Pilihan A: Jual semua → Kas masuk cepat, tapi kehilangan potensi masa depan.
    • Pilihan B: Jual sebagian → Tetap punya kendali, pertahankan potensi.

Untuk setiap jalur, tanya:

  • Berapa biaya finansial?
  • Berapa investasi waktu?
  • Berapa risiko terhadap moral tim?
  • Dampak jangka panjang terhadap merek?

Ini membantu memilih jalur paling realistis dan paling minim risiko—tanpa menebak-nebak.

Langkah 6: Strategi Internal dan Eksternal untuk Kerja Jarak Jauh dan Perubahan Pasar

Dr. Dina juga membagikan strategi praktis untuk startup yang beroperasi dalam kondisi lockdown:

Strategi Internal (Kerja dari Rumah):

  • Tetapkan target mingguan yang jelas dan definisikan apa artinya "selesai".
  • Gunakan Zoom untuk cek-in, tapi buat ringan—tanya kesehatan mental, bukan cuma tugas.
  • Bangun koneksi tim lewat panggilan non-kerja (misalnya, obrolan kopi virtual).
  • Libatkan karyawan dalam perencanaan skenario agar merasa punya kepemilikan.

Strategi Eksternal (Pasar):

  • Pivot produk sesuai kebutuhan baru (misalnya, merek fashion buat masker).
  • Alihkan anggaran pemasaran ke channel daring—tapi jaga stabilitas, bukan agresif.
  • Ubah layanan pelanggan: tambahkan dukungan WhatsApp, tawarkan konsultasi gratis.
  • Kolaborasi dengan bisnis lain (misalnya, restoran bekerja sama dengan aplikasi pengiriman).
  • Luncurkan transaksi mikro (bayar per pakai) atau harga fleksibel untuk kurangi risiko pelanggan.

Poin Kunci

  • Ketidakpastian bukan penghalang—ia sinyal untuk berencana.
  • Fokus hanya pada 2–3 kekuatan utama yang paling berdampak bagi bisnis Anda.
  • Susun 4 skenario untuk siap menghadapi masa terbaik, terburuk, dan dua kondisi campuran.
  • Ubah setiap tantangan jadi peluang inovasi potensial.
  • Gunakan pohon keputusan untuk pilih aksi berdasarkan trade-off nyata, bukan perasaan semata.

Tonton sesinya

Tag

  • scenario planning
  • startup strategy
  • crisis management
  • pandemic response
  • decision making