#StartupLokal

Bagaimana Marketplace Berbasis Lokasi Membawa Pedagang Tradisional Indonesia Online Tanpa Perlu Smartphone

18 Juni 2020

Ditulis dari #StartupLokal Meetup v.103 — Indigo x #StartupLokal Meetup: Shaping The Future of UMKM Through Digital

Bagaimana Marketplace Berbasis Lokasi Membawa Pedagang Tradisional Indonesia Online Tanpa Perlu Smartphone

Henry Suharja, CEO dan co-founder titipku, berpendapat bahwa pandemi COVID-19 telah membuat adopsi digital menjadi hal yang tak terhindarkan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia, namun sebagian besar pedagang tradisional tidak memiliki perangkat dan keahlian untuk bergabung dengan marketplace umum. Perusahaannya membangun marketplace berbasis lokasi yang memungkinkan pengguna muda yang disebut penjelajah membuat toko online untuk pedagang tersebut, dan membagikan kepemilikan perusahaan kepada setiap orang yang berpartisipasi.

Mengapa UMKM Indonesia Harus Go Digital Setelah Pandemi

Apa yang Berubah bagi Pedagang Kecil selama COVID-19?

Pandemi mengosongkan pasar tradisional. Suharja menceritakan kunjungannya ke pasar di Jakarta Barat setiap pagi dan mendengar penjual berkata pasar tersebut benar-benar kosong setelah pesan hoaks menyebut banyak pedagang terinfeksi coronavirus.

Saya datang ke pasar, masih buka, pedagang menunggu pembeli, tidak ada satupun dari itu.

Untuk bertahan, pedagang perlu menjangkau pelanggan yang tak lagi ingin keluar rumah. titipku fokus pertama pada membantu penjual bahan pokok dan pasar tradisional go digital karena itulah yang paling dibutuhkan situasi.

Saat corona, kami fokus membantu pedagang, terutama pedagang bahan pokok dan pasar tradisional, untuk masuk ke dunia digital.

Ini bukan proyek sampingan; itu adalah respons inti terhadap guncangan tertentu. Platform biasanya menerima semua jenis UMKM, tetapi krisis membutuhkan prioritas. Suharja mencatat bahwa negara memiliki lebih dari 60 juta UMKM, namun hanya sekitar 10 persen yang sudah go digital, dan hanya sekitar 5 persen produk yang dijual online sebelum intervensi seperti ini.

Mengapa Pengusaha Baru Muncul dari Krisis

Sejarah menunjukkan krisis berulang kali melahirkan bisnis yang tangguh. Suharja mencatat bahwa keluarga di mana ayah di-PHK menyaksikan istri mulai menjual makanan dari rumah, dengan anak menangani promosi online.

Ibu langsung bertindak, mencoba membuat sesuatu. Ternyata yang paling mudah adalah makanan.

Ia menjelaskan ini positif: UMKM baru yang lahir di krisis mulai dari apa yang mereka miliki dan tahu, lalu bereksperimen secara kreatif. Beberapa penjual makanan rumahan mencapai puluhan juta rupiah omzet bulanan dalam dua bulan.

Dalam dua bulan omzet mereka signifikan, bahkan mencapai puluhan juta.

Pelajarannya adalah bisnis tidak perlu menyewa toko; menjual dari rumah lewat platform online adalah new normal. Lebih lanjut, Suharja melihat kekuatan budaya: orang Indonesia menerapkan gotong-royong, yang berarti UMKM baru saling membeli dan menjaga ekonomi lokal tetap sehat.

Indonesia dikenal dengan semboyan gotong-royong, yang sebenarnya hanya dimiliki oleh orang Indonesia.

Bagaimana Marketplace titipku Berbeda dari Platform Umum

Seperti Apa Beranda Berbasis Lokasi itu?

Berbeda dengan marketplace besar yang membuka dengan produk nasional kurasi, titipku menampilkan pasar tradisional terdekat pengguna terlebih dahulu. Jika pengguna berada di Meruya, Jakarta Barat, aplikasi menampilkan UMKM dan pasar di area tersebut.

Hal pertama yang Anda buka langsung adalah pasar tradisional dan siapa pedagang di sana.

Desain ini sesuai dengan cara orang Indonesia benar-benar berbelanja kebutuhan harian dan membangun kepercayaan karena pembeli melihat penjual lokal. Pengalaman pengguna sengaja berbeda dari marketplace umum, di mana pembeli pertama kali melihat daftar nasional yang tak terkait. Dalam tiga bulan, titipku mendukung lebih dari 9.000 UMKM masuk ke platformnya, dan lebih dari 50 pasar tradisional dibawa online, tersebar dari Jakarta dan Yogyakarta ke bagian lain Jawa dan Bali.

Mengapa Menampilkan Foto Asli dari Kios Pasar?

Platform arus utama mensyaratkan foto produk yang halus. titipku sengaja menggunakan foto mentah yang diambil di kios.

Kami ingin menunjukkan ini UMKM Indonesia, seperti itu.

Suharja mengatakan nilainya adalah keaslian: pembeli yang memesan ayam dari pasar Yogyakarta melihat kios sesungguhnya dan produk nyata, seperti berbelanja langsung. Ia membandingkan dengan marketplace di mana produk harus difoto cantik, berargumen bahwa nilai berbeda adalah menampilkan realitas. Total UMKM yang onboarding lewat titipku mencapai 100.000, dari Aceh hingga Papua, dengan 150.000 pengguna aplikasi yang mendukung mereka.

Konsep Kepemilikan Bersama di Balik titipku

Bagaimana Pengguna Mendapat Saham Perusahaan?

titipku membagikan voucher kepemilikan kepada pengguna aplikasi sebagai apresiasi atas dukungan bersama untuk UMKM Indonesia. Marketplace unicorn besar memusatkan kepemilikan pada founder dan venture capital; titipku melakukan sebaliknya.

Kami punya konsep di mana kami ingin mendistribusikan kepemilikan titipku ke semua pihak, yaitu pengguna aplikasi titipku.

Voucher ini mewakili saham di PT titipku dan diberikan atas aktivitas seperti menjelajah atau membeli. Pengguna dapat mengumpulkannya setiap hari dengan berganti peran antara pembeli, explorer, dan kurir.

Mengapa Memberikan Kepemilikan kepada Pelanggan dan Penjelajah?

Langkah ini menyelaraskan insentif. Ketika pengguna memiliki bagian dari platform, mereka termotivasi mendukung penjual lokal而非 mengejar promo cashback. Suharja menekankan titipku tumbuh sehat tanpa membakar uang untuk diskon masif.

Kami tidak menerapkan sistem membakar uang untuk promo gila seperti cashback dalam jumlah masif.

Sebaliknya, edukasi tentang investasi jangka panjang lewat voucher menggantikan subsidi jangka pendek. Platform juga memberi penghasilan kepada penjelajah dan kurir, namun kepemilikan adalah ikatan lebih dalam yang membuat pengguna memperlakukan marketplace sebagai koperasi mereka sendiri.

Sistem Penjelajah: Outsourcing Keahlian Digital

Siapa Penjelajah dan Apa yang Mereka Lakukan?

Penjelajah, yang berarti explorers, mayoritas adalah milenial yang aktif di media sosial. Mereka membuka aplikasi, menemukan kios tetangga, memotretnya, dan membuat toko online tanpa pemilik menyentuh ponsel.

Tugas explorer adalah memperkenalkan titipku ke UMKM, membuat toko online, membantu promosi.

Satu pengguna memposting 600 UMKM dalam sebulan, mendapat imbalan 5.000 hingga 10.000 rupiah untuk setiap eksplorasi yang diposting plus penghasilan pasif dari transaksi selanjutnya di toko tersebut.

Bagaimana Seorang Milenial Membantu Pemilik Kios Selangkah demi Selangkah?

Proses mengikuti langkah jelas:

  1. Unduh aplikasi titipku dan buka mode explorer.
  2. Kelilingi lingkungan dan temukan kios atau usaha rumahan.
  3. Ambil foto asli produk dan tempat.
  4. Isi detail: alamat lewat maps, jam buka, daftar produk.
  5. Terbitkan toko; pemilik tidak bayar apa-apa.

Ibu tidak dibebankan biaya apa pun, harga adalah harga asli.

Karena banyak pemilik UMKM sudah lanjut usia atau tidak punya smartphone, cara ini menghapus kesenjangan keahlian digital sepenuhnya. Explorer lalu terus mendapat dari setiap transaksi di toko itu. Suharja menekankan kesabaran: explorer harus detail agar UMKM benar-benar bisa jual online.

Kuncinya adalah kesabaran, untuk mendidik penjual, Anda harus mencintai UMKM dulu.

Empat Masalah UMKM dan Bagaimana titipku Mengatasinya

Apa Empat Masalah Inti Tersebut?

Suharja mencatat empat keluhan berulang dari pedagang: kurangnya modal usaha, pemasaran, pengembangan produk, dan distribusi.

Pertama modal usaha, kedua pemasaran, ketiga pengembangan produk, keempat distribusi.

Modal adalah yang tersulit karena pedagang kecil tidak punya pembukuan rapi, sehingga bank menolak pinjaman. Pemasaran bersifat universal; pengembangan produk menderita karena pemilik terlalu sibuk; distribusi bersifat logistik.

Bagaimana titipku Menghubungkan Pedagang ke Modal?

titipku bermitra dengan bank, koperasi, dan perusahaan multifinance. Karena transaksi terjadi di platform, lembaga tersebut mempercayai data dan menyetujui pinjaman lebih mudah.

Lewat titipku, multifinance, bank, atau koperasi lebih percaya, jadi lebih mudah dapat pinjaman.

Pemasaran diselesaikan oleh jaringan penjelajah; distribusi oleh sistem kurir sendiri titipku yang disebut titip er. Perusahaan juga merujuk UMKM ke lembaga keuangan, mengurangi kesenjangan. Untuk pengembangan produk, pemilik sibuk yang memasak, menjual, dan mengurus keluarga mendapat bantuan karena toko online menghilangkan kebutuhan belajar teknologi.

Memahami Konsumen Digital dan Industry 4.0

Bagaimana Perilaku Konsumen Bergeser ke Online?

Suharja mengutip enam pilar teknologi Industry 4.0 dari profesor Ratna Rhenald Kasali. Super apps mengumpulkan data, menciptakan big data yang digunakan untuk menggerakkan massa. Konsumen tidak lagi hanya menerima iklan; mereka mengkritik dan membagikan secara viral.

Konsumen di era digital tidak hanya membagikan tetapi juga menembak.

Ia memberi contoh aturan larangan foto Garuda Airlines yang diubah AirAsia menjadi kontes, menunjukkan pelanggan kini membentuk hasil merek. Contoh lain: storytelling kitabisa.com yang memicu 20.000 suka dan 4.000 bagikan untuk kasus donasi. Iklan pasif lama diingat lewat jingle sederhana:

Jika Anda dengar 'twist, lick, dip' Anda ingat Oreo. Jika kita bilang 'kita ingin kuat' Anda ingat Biskuat.

Itu satu arah; pengguna masa kini membagikan, menembak, dan membentuk produk.

Apa Efek Jaringan di Pasar Indonesia?

Ojek pangkalan tradisional kalah dari Gojek dan Grab karena pengguna menikmati kemudahan online. Suharja memperingatkan penjual harus mempelajari dimensi pasar sebelum memproduksi.

Kita harus lihat pasar dulu, karena pasar sekarang berbeda.

Ia menyarankan survei apa yang benar-benar dibutuhkan pembeli online而非 memproduksi massal dan berharap laku. Efek jaringan berarti produk harus cocok dengan keinginan konsumen digital baru, atau model gagal meski output tinggi.

Bagaimana titipku Menangani Kendala Dunia Nyata

Bagaimana dengan Daerah Terpencil Tanpa Kurir?

Jika pembeli di daerah terpencil di mana titip er tak tersedia, titipku menggunakan ojek online atau menghubungi penjelajah komunitas lokal.

Kami terkadang pakai ojek online, itu satu cara. Kedua, titipku secara aktif punya komunitas pengguna di daerah.

Pendekatan komunitas memastikan tidak ada UMKM tertinggal, dari Aceh hingga Papua. Basis pengguna platform 150.000 mencakup explorer di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

Bagaimana Ibu yang Tidak Paham Teknologi Diajak Masuk?

Pedagang lanjut usia sering menolak bantuan awalnya. Suharja ingat ditolak di Pasar Titi Kuning meski menawarkan toko gratis.

Saya tawarkan pedagang, 'Bu, saya bantu Anda, saya buatkan toko,' terkadang kami masih ditolak.

Edukasi adalah tantangan terbesar, baik bagi UMKM maupun publik. Penjelajah tetap gigih, menjelaskan tanpa risiko, lalu membangun toko. Aplikasi sengaja dibuat sederhana dibanding alur onboarding marketplace yang panjang.

Mempersiapkan UMKM untuk Krisis Berikutnya

Apa yang Harus Dilakukan Bisnis Kecil untuk Selamat dari Guncangan Mendatang?

Suharja mengatakan kepada penanya bahwa krisis akan berulang tak terduga. Pemilik harus menjaga cash flow dan siap beradaptasi.

Kita harus selalu siap, waspada, hati-hati soal cash flow, harus pintar di situ.

Ia menambahkan bahwa relevansi produk mengalahkan kesetiaan pada format lama, mencontoh jatuhnya BlackBerry dari Android. Bisnis harus kolaborasi, seperti penjual fashion yang mengbundel sampel dengan produk pembuat kue.

Jangan punya pola pikir di mana kita hanya memikirkan bisnis sendiri.

Kolaborasi melipatgandakan jangkauan tanpa modal ekstra. Ia juga mencatat bahwa artificial intelligence dan machine learning, yang diprediksi menggantikan lima juta pekerja pada 2020, harus dilihat sebagai peluang oleh entrepreneur yang memilih membangun dengannya.

Poin-Poin Utama

  • Adopsi digital kini wajib bagi UMKM Indonesia, namun desain berbasis lokasi dan penolong manusia bisa onboarding pedagang yang tidak paham teknologi.
  • Sistem penjelajah titipku memungkinkan milenial membuat toko online untuk penjual pasar tradisional tanpa biaya bagi pemilik.
  • Voucher kepemilikan bersama menyelaraskan pengguna dengan kesehatan platform而非 pembakaran cashback.
  • Empat kesenjangan inti UMKM adalah modal, pemasaran, pengembangan produk, dan distribusi; kemitraan dengan bank dan kurir komunitas mengatasi mereka.
  • Tahan krisis berarti kendali cash flow ketat, adaptasi terus-menerus, dan kolaborasi lintas sektor.

Tonton sesinya

Tag

  • UMKM digitalization
  • titipku
  • marketplace model
  • shared ownership
  • Indonesia startup
  • penjelajah